• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Walikota Hendi Tak Ingin Penutupan Lokalisasi Hanya Jadi Ajang Seremonial

 10-08-2018 22:20 WIB    by Admin    Dilihat: 338 kali News

SEMARANG- Seperti yang diketahui, Kementrian Sosial telah mengeluarkan kebijakan 'Indonesia Bebas Lokalisasi Prostitusi Pada 2019' dengan mendorong seluruh stakeholder di daerah untuk dapat aktif terlibat mendukung target tersebut. Tidak tanggung-tanggung, tercatat 43 lokalisasi diharapkan bisa tutup selambat-lambatnya di 2019. Salah satunya adalah Resosialisasi Argorejo di Kota Semarang atau yang biasa dikenal dengan sebutan Lokalisasi Sunan Kuning.

Terkait hal tersebut, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengungkapkan tak ingin penutupan lokalisasi kemudian hanya menjadi sebuah ajang seremonial saja. Menurut Wali Kota Semarang yang biasa diakrab Hendi itu tidak dapat dipungkiri bila dalam upaya penutupan lokalisasi tersebut banyak aspek yang dipertimbangkan dan harus ditangani secara komprehensif.

"Jika berkaca pada kebijakan Kementrian Sosial bahwa lokalisasi sudah harus dihapus dari Indonesia di 2019, maka Kota Semarang juga harus mengikutinya. Namun penutupan itu jangan cuma sebagai seremoni saja, yang kemudian setelahnya para pelaku prostitusi justru berpotensi melakukan aktifitas serupa ditempat-tempat lain”, tegas Wali Kota Semarang yang juga politis PDI Perjuangan tersebut. 

“Sangat tidak elok memang jika dalam sebuah kota ada aktifitas prostitusi di dalamnya. tapi kita ini tidak bisa serta merta menutup karena di sana banyak persoalan ekonomi”, pungkas Hendi saat melakukan diskusi terkait rencana tindak lanjut Resos Argorejo di Hotel Grasia, Semarang, Kamis (9/8).

Lebih lanjut Hendi mengatakan jika nantinya akan dilakukan penutupan, dirinya meminta agar dipastikan bahwa para pelaku prostitusi itu sudah siap dan terampil untuk melakukan aktifitas lain yang positif. Tak hanya itu, pasca penutupan pun Hendi meminta agar segera disusun perencanaan yang matang untuk dapat segera merubah kawasan bekas lokalisasi tersebut nantinya agar menjadi trademark baru Kota Semarang dengan citra yang lebih positif.

“Intinya ini harus komprehensif dan menjadi tanggung jawab bersama, baik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung”, tutupnya.

Dalam diskusi tersebut, Hendi menggandeng berbagai pihak, antara lain pendamping WPS Sunan Kuning, Yayasan Kalandara, KPA Kota Semarang, Yayasan Lentera Asa, Sokoguru Foundation, Forum Kota Sehat, Komisi Penanggulangan AIDS, SSR Aiisyiyah Kota Semarang, LBH Apik, LO IAC Semarang, Semarang Gaya Community, Komunitas Odha Ohidha Semarang, Kodim 0733 BS Kota Semarang, Polrestabes Semarang, Kementrian Agama, Kejaksaan Negeri, Pengurus Kompleks Sunan Kuning, serta sejumlah perwakilan Perguruan Tinggi di Kota Semarang.