• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Jaga Kebersihan Tak Semata Untuk Lomba

 23-02-2016 15:29 WIB    by Tanya Jawab    Dilihat: 372 kali Berita Kota
Walikota Hendrar Prihadi meminta seluruh lurah dan camat untuk menggerakkan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. “Upaya menjaga lingkungan ini, bukan semata-mata karena penilaian Adipura tetapi memang menjadi tugas kita untuk memelihara kebersihan kota secara utuh," katanya di Gedung Balaikota saat membuka Sosialisasi Program Adipura  Selasa(23/2). Waktu empat bulan yang ada dirasa cukup untuk melakukan perubahan agar menjadi lebih baik. Mumpung musim penghujan, lanjutnya, dapat dimanfaatkan untuk mempercantik taman dengan tanaman yang indah, baik untuk taman utama di pintu masuk kota maupun taman lingkungan. Walikota juga mengajak masyarakat untuk bekerja bhakti membersihkan lingkungan, memilah dan mengolah sampah sehingga mengurangi pembuangan sampah ke TPA (tempat pembuangan akhir) Jatibarang. Walikota juga berpesan kepada para lurah untuk melibatkan ibu-ibu PKK serta terus mengajak warganya mengurangi penggunaan "tas kresek" atau tas plastik. Hal ini, lanjutnya, sangat perlu dilakukan mengingat tas plastik baru bisa hancur setelah 300 tahun. “Ayo mulai gunakan tas kain karena selain ramah lingkungan juga bisa dipakai berulang kali,” ingat Walikota. Sementara, Ir. Sudirman MM dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan bahwa penilaian Adipura tahun ini berbeda dengan sebelumnya. Perbedaan terdapat pada sisi obyek penilaian menyeluruh mulai dari pemukiman, pasar, terminal, dan tidak ditentukan titik-titik mana yang menjadi sasaran penilaian. Penilaian Adipura kali ini juga sangat strategis, mengingat kota Semarang termasuk salah satu dari tujuh kota yang dipilih oleh pemerintah pusat sebagai kota listrik berbasis sampah dalam rangka mendukung program listrik 35 Mega Watt. Dalam kaitan ini, lanjutnya, peran warga masyarakat sangat menentukan karena proses pengolahan pilah sampah dimulai sejak sampah rumah tangga untuk kemudian diolah menjadi kompos dan hasil daur ulang lainnya. Sisa sampah yang tidak terolah inilah selanjutnya akan dibuang ke tempat pembuangan akhir untuk diproses menjadi energi listrik. Oleh karenanya, perlu disosialisasikan ke masyarakat bahwa mengolah sampah menjadi listrik melalui proses panjang yang melibatkan seluruh warga masyarakat. Sudirman juga berpesan agar bank sampah Kota Semarang yang saat ini berjumlah 35 supaya bisa ditambah, setidaknya setiap kelurahan ada satu bank sampah.