• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Karnaval Seni Budaya Lintas Agama dan Pawai Ogoh Ogoh

 27-03-2016 16:39 WIB    by Tanya Jawab    Dilihat: 515 kali Berita Kota
“Merajut Harmoni dalam Keberagaman” Dalam rangka  meningkatkan kunjungan wisatawan ke Jawa Tengah khususnya Kota Semarang, maka Parisada Hindu Dharma Kota Semarang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang mengadakan Karnaval Seni Budaya Lintas Agama dan Pawai Ogoh-Ogoh, dari depan Gereja Blenduk hingga berakhir di halaman Balaikota Semarang, Minggu (27/03) dan dibuka langsung oleh Walikota Semarang Hendrar Prihadi. Tampak hadir Ass II Provinsi Jawa Tengah yang mewakili Gubernur Jawa Tengah, segenap Muspida Kota Semarang, para anggota DPRD Kota Semarang, tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Diawali oleh laporan ketua panitia AKBP I Nengah Wirta Darmayana, bahwa kegiatan tersebut adalah mengambil momen Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1938 dengan mengusung tema “Merajut Harmoni dalam Keberagaman”. I Nengah Wirta Darmayana menerangkan bahwa moment ini adalah sarana silaturahmi sekaligus mengembangkan kreasi seni bagi seluruh komponen masyarakat lintas agama dan etnis di Kota Semarang. Lebih lanjut I Nengah mengemukakan tujuan  dari Pawai Ogoh-Ogoh ini adalah sebagai sarana memelihara kerukunan umat beragama di Kota Semarang, serta sarana untuk memantik para pelaku seni di Kota Semarang guna mengembangkan kreasi dan inovasi dalam menciptakan karya seni budaya baru dalam rangka mendukung perkembangan pariwisata di Kota Semarang.

Sementara itu Walikota Semarang, Hendrar Prihadi dalam sambutannya menegaskan bahwa Semarang adalah kota yang kondusif, kota yang mampu hidup harmonis dalam keberagaman dan kemajemukan. Lebih lanjut Hendi mengatakan bahwa Dari event karnaval seni budaya dan pawai ogoh-ogoh ini, setidaknya ada beberapa harapan positif yang  dapat diwujudkan. Yaitu Mengangkat dan mendongkrak dunia pariwisata di Kota Semarang. Walikota Semarang  berharap event ini akan menjadi daya tarik wisatawan tidak hanya lokal, namun juga wisatawan asing, karena dari segi kualitas penyelenggaraan maupun muatannya tidak kalah dengan yang ada di Bali. Artinya, ada sebuah potensi seni, budaya yang berakar dari tradisi agama yang patut kita lestarikan dan kemas secara apik, menarik dan atraktif agar mampu menjadi magnet pariwisata sehingga semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke Kota Semarang, kemudian Ogoh-ogoh menggambarkan sifat negatif dari Bhuta Kala.

Untuk itu melalui kegiatan ini Hendi  berharap dan berdoa mudah-mudahan Kota Semarang selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa, terhindar dari hal-hal negatif, terbebas dari segala bentuk bencana, kemudian yang terakhir harapan Hendi adalah bahwa kebersamaan dalam kemajemukan yang terekam melalui event ini akan senantiasa terawat dan terpelihara dengan baik sebagai modal membangun Kota Semarang yang kita cintai ini menjadi semakin baik dan semakin hebat.

Tepat pukul 14.00 Walikota Semarang memukul gong tanda Pawai Ogoh-Ogoh dimulai,  4 ogoh-ogoh raksasa yang diiringi kelompok-kelompok keagmaan yang terbagi dalam 3 kelompok. Diantaranya: Kelompok Baleganjur Peradah Kota Semarang, Kelompok Kesenian dari Umat Kristen (Terang Bangsa), Kelompok Kedenian dari Umat Kong Hu Chu, kelompok Penghayat Kepercayaan. Baris Kedua berisi Kelompok Baleganjur Ngudi Waluyo Ngaran, Kelompok Kesenian Barongsai dari Umat Hindu Grobogan, Kelompok Kesenian dari Umat Hindu Kab Semarang dan Salatiga.

Barisan terakhir Kelompok Baleganjur Taruna Akpol dan Kelompok Voorijder 9-2 dari Polrestabe Semarang, dan finish di halaman Balaikota Semarang. Sesampai di Halaman Balaikota, pengunjung dihibur sendratari bertajuk “Garuda Murti” yang menceritakan bahwa Indonesia yang dilambangkan dengan Burung Garuda sedah beberapa kali mengalami ujian dan cobaan namun dengan pancasila sampai tetap sakti sepanjang masa. Akhir acara di halaman Balaikota Semarang ditutup oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Masdiana Safitri.