• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Al Quran Sumber Aturan dari Allah SWT

 21-06-2016 14:45 WIB    by Tanya Jawab    Dilihat: 320 kali Berita Kota
Malam ke-15 Ramadhan Walikota Semarang Hendrar Prihadi Tarawih keliling bersama Muspida. Kali ini di tempat Kementerian Agama (Kemenag) Kota Semarang Jl. Untung Suropati, Selasa (20/6). Hadir dalam kegatan tersbut Kepala SKPD, Camat dan Lurah serta Kepala beserta karyawan dan karyawati Kemenag dan FKPD. Kepala Kemenag H. Muhamad Habib dalam sambutan shohibul bait menyampaikan terima kasih karena Bapak Walikota Hendrar Prihadi bisa hadir dan terawih bersama di lingkungan Kemenag. “Semoga sarana ini bisa menjalin ukuwah islamiyah dan mempererat silaturahmi” ujarnya. Pihaknya menyampaikan permasalahan yang dialami di lingkungan kantornya. “Mohon Bapak Walikota bisa mengurai permasalahan yang kami hadapi ini”, harapnya. Terkait PKL yang ada di depan kantor Kemenag menutupi bangunan Kantor Kami dan membuat kumuh, kalau bisa dipindahkan ke sisi timur. “Jika warga mau datang ke kantor kami, warga sering tidak bisa melihat kantor kami karena ketutupan lapak PKL” keluhnya. Sementara Walikota Semarang dalam sambutannya mengajak agar berlomba-lomba untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif di Bulan Ramadhan, karena akan dilipatgandakan. “Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151) Lanjut Walikota, tetap waspada dengan rob dan banjir karena menurut prakiraan Badan Meteorologi dan Geofisika khususnya Pulau Jawa masih mengalami rob dan banjir dalam sebulan ini, tuturnya. Lanjutnya untuk tak perlu risau dengan jalan-jalan yang terkena rob dan banjir terutama di kawasan timur Semarang. Karena pihaknya telah mengkomunikasikan ke pusat untuk meminta bantuan perbaikan jalan terutama dalam menghadapi arus muduk dan balik lebaran ini. “Saya pastikan H-5 jalur mudik di Kalgawe tersebut sudah bisa digunakan arus mudik lebaran nanti. Kami sudah membicarakannya dengan meneteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mengatasi permasalahan ini” urainya. Sedangkan dalam tausyiah, KH. Hadlor Ikhsan memapaparkan bahwa kita harus menjadi hamba yang selalu bersyukur kepada Allah SWT. “Karena Allah itu bisa saja menciptakan apa saja menjadi apa saja”, ujarnya. Kita dimulyakan Allah melebihi makhluk yang lainnya, hal ini dapat dilihat secara fisik manusia memiliki kelebihan secara fisik berupa panca indera yang lengkap ditambah dengan diberi hati nurani dan akal. Maka dari itu Allah SWT menetapkan aturan-aturan untuk manusia dipatuhi dan mengatur hidup manusia tidak melenceng dari koridor. Sehingga menjadi akhlak manusia yang berakhlaquk kahrimah. “Aturan yang disediakan Allah SWT berupa Al Quran Nur Karim”, tandas Hadlor. Salah satu akhlaq yang sangat penting adalah berbicara. “La Kunurima Si Kusna, berbicaralah dengan siapa saja saja dengan perkataan yang bagus-bagus tanpa menyinggung lainnya”. Tuturnya. Adapun etika berbicara sebagai umat muslim yang dituntut dienul islam ada 12 yakni berkata baik/ diam, sedikit bicara lebih utama, dilarang membicarakan setiap yang didengar, jangan mengutuk dan berbicara kotor, jangan senang berdebat meski benar, dilarang berdusta untuk membuat orang tertawa, hendaknya berbicara dengan suara yang dapat didengar, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu rendah, jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna, tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa, menghindari perbuatan mengunjung menggunjing (ghibah) dan mengadu domba, mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya juga tidak menampakkan bahwa kamu mengetahui apa yang dibicarakannya tidak mengganggap rendah pendapatnya/ mendustakannya.