• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Berita Kota

Penanganan Banjir dan Rob Idealnya Per Tahun Butuh Rp 600 Miliar

 11-11-2016 07:52 WIB    by Tanya Jawab    Dilihat: 93 kali Berita Kota
 Banjir dan rob sudah menjadi permasalahan klasik di Kota Semarang. Untuk menanganinya Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terbatas kemampuan anggarannya sehingga tidak kunjung selesai. Setiap tahun idealnya kebutuhan anggaran mencapai Rp 600 miliar. 

Hal itu diungkapkan Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi dalam diskusi 'Menyiasati Rob dan Banjir Kota Semarang' di Hotel Dafam Semarang, Rabu (9/11). Ditambahkan Supriyadi, tapi setiap tahun anggaran yang dialokasikan Pemkot dan DPRD Kota Semarang hanya sebesar Rp135 miliar. Anggaran tersebut diberikan kepada Dinas Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Energi Sumber Daya Mineral (PSDA-ESDM). Untuk kegiatan perawatan saluran, sungai, antisipasi banjir, rob dan lainnya. Diakui anggaran Rp135 miliar itu masih sangat kurang. 

''Bagaimana lagi, kebutuhan dasar masyarakat Kota Semarang tidak hanya soal penanganan banjir dan rob. Tapi ada masalah pendidikan, kesehatan, dan lain-lain,'' tandas Politisi PDI Perjuangan ini.

Dijelaskan Supriyadi, sedangkan APBD Pemerintah Kota Semarang sendiri hanya sebesar Rp 4,1 triliun. Harapannya, pengalokasian Rp135 miliar itu bisa ditambah dari subsidi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Seperti dalam rencana normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) yang fisiknya akan dimulai 2017 dengan perkiraan kebutuhan anggaran Rp1 triliun lebih.   

Pembicara lainnya, Pakar Hidrologi dari Undip Semarang Nelwan mengatakan, rob belum dikenal di masyarakat Kota Semarang tahun 1980an, Rob baru terjadi setelah kawasan pesisir Semarang digunakan untuk permukiman seperti di Tanah Mas, yang dulunya merupakan daerah tambak. ''Setelah itu, baru masyarakat merasakan dan menyadari tanahnya turun kena rob. Penyebab utama rob adalah karena penurunan muka tanah dan garis pantai diutak-atik untuk pembangunan,'' pungkasnya.