• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Semarang,Panen Raya Kelengkeng

 02-02-2017 10:35 WIB    by Admin    Dilihat: 1291 kali Berita Kota
Meski disebut sebagai Kota Metropolitan, namun Kota Semarang masih kaya dengan hasil perkebunan. Hal itu dibuktikan saat Walikota Semarang memanen buah kelengkeng hasil budi daya Dinas Pertanian Kota Semarang saat Panen Raya di kebun Cepoko Kecamatan Gunungpati, Rabu (1/2).

Suasana gerimis tak menyurutkan langkah Walikota Semarang beserta rombongan memanen buah berasa manis tersebut. Di tengah-tengah perjalanan rombongan berhenti untuk melihat bibit-bibit tanaman yang ada di UPTD benih tanaman milik Dinas Pertanian Kota Semarang. Di sana ditanam berbagai bibit buah diantaranya kelengkeng, jambu kristal, durian, rambutan, dan lain-lain.
Di kota yang memiliki potensi dalam bidang industri ini, sektor perkebunan dan pertanian masih dipertahankan karena dianggap berpotensi untuk mengangkat perekonomian masyarakat. Dapat dilihat melalui dibukanya lahan luas yang dikelola untuk menghasilkan buah berkualitas baik. Bahkan sejumlah pohon buah yang sengaja dibudidayakan Dinas Pertanian ini tumbuh dengan subur.

Dari data yang diperoleh dari Dinas Pertanian, lahan pertanian di wilayah Kota Semarang total seluas 2.700 hektar. Sedangkan area perkebunan adalah seluas 35,6 hektar yang terbagi di 12 lokasi di antaranya Kebun Purwosari, Kebun Bubakan, Kebun Wates, Kebun Gunungpati, Kebun Cepoko, Kebun Nongko Sawit, Kebun Kramas, Kebun Tambangan, Kebun Cangkiran, dan Kebun Wonosari.
Dari kebun-kebun tersebut telah tertanam sebanyak 1.543 pohon kelengkeng, 292 pohon durian, 1.801 pohon jambu Kristal, 138 pohon jambu air, 163 pohon srikaya atau grand annona,  847 pohon sirsak madu, seta 34 pohon rambutan.
Buah kelengkeng sendiri merupakan salah satu komoditas di Kota Semarang. Pasalnya dari sebanyak 837 pohon kelengkeng yang berusia 4-5 tahun telah dihasilkan kurang lebih 33,5 ton buah untuk dipasarkan di wilayah Semarang bahkan luar kota Semarang.

Dalam pelaksanaannya, pengelolaan kebun baik dari penanaman, pemupukan, dan pemanenan dilakukan oleh petani dimana Dinas Pertanian berperan dalam hal pengembangan teknologi serta penyediaan benih, pupuk, dan air. Hasil dari pembudidayaan buah tersebut diberlakukan bagi hasil dengan pembagian 70 persen untuk para petani dan 30 persen masuk ke dalam Pendapatan Asli Daerah.
Seperti salah satu petani di daerah Cepoko, Rowi (57). Dirinya bersama 15 petani lainnya mengelola budi daya kelengkeng, jambu Kristal, dan sirsak dengan luas lahan 2,7 hektar. Ia dianggap berhasil karena hasil panennya banyak disukai pelanggan karena rasanya yang manis dan berkualitas baik.

Usai memanen buah manis tersebut, Walikota Semarang Hendrar Prihadi menyebutkan bahwa pihaknya mendukung kegiatan budi daya kelengkeng ini untuk meningkatkan kesejahteraan warga. “Saya bangga dengan Warga Cepoko yang telah menjalankan usaha budi daya ini, meskipun wilayahnya merupakan daerah pengembangan namun warganya punya keinginan untuk memajukan daerahnya,” ungkap Walikota Hendrar Prihadi.
Ia melanjutkan, warga Cepoko harus bersyukur karena daerah ini kaya dengan potensi pertanian dan peternakan. Apalagi adanya UPTD Dinas Pertanian yang menggandeng beberapa stakeholder yang mana dianggap dapat menambah proses pengembangan wilayah ini menjadi lebih baik.

“Budi daya buah di wilayah ini saya pikir sudah berhasil. Rasa syukur sebagai warga Gunungpati ini harus diwujudkan dengan semangat, swadaya untuk ikut membangun wilayah Gunungpati menjadi lebih baik”,tutur Walikota di depan para petani.
Sektor pertanian, meski memberikan kontribusi kecil tetapi memiliki potensi yang besar khususnya di daerah Gunungpati, Mijen, Ngaliyan, Tembalang, Banyumanik, dan Tugu.
Untuk di wilayah perkotaan, sektor pertanian tetap bisa dilaksanakan dengan pengembangan tanaman hias karena relatif tidak membutuhkan lahan luas. Kota Semarang memiliki 334 kelompok tani yang tergabung dalam 48 gapoktan, dan tujuh asosiasi berdasarkan komoditas pertanian.