• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Walikota Hendi : Setiap Pemuda Punya Potensi Menjadi Pemimpin

 07-04-2017 08:42 WIB    by Admin    Dilihat: 4917 kali Berita Kota
Setiap pemuda memiliki potensi untuk menjadi pemimpin. Hal itu diungkapkan Walikota Semarang Hendrar Prihadi saat didapuk menjadi salah satu narasumber dalam event EMTEK Goes to Campus 2017 di auditorium Universitas Negeri Semarang (UNNES), Kamis (6/4).
Di depan ratusan mahasiswa Semarang yang rata-rata berasal dari UNNES dan UNDIP, orang nomor satu di Semarang itu menyampaikan pengalamannya hingga menjadi Walikota Semarang.
“Tidak pernah terbersit di dalam hati Saya menjadi orang nomor satu Semarang. Karena semasa SD cita-cita saya pilot, kuliah berubah menjadi dokter. Dulu semasa kuliah saya aktif di organisasi kepemudaan seperti KNPI, Pemuda Pancasila, FKPPI, dll hingga tak sadar hampir selama 7 tahun baru lulus dari kuliah. Kemudian salah satu teman saya mendorong agar saya masuk ke dunia politik. Hingga akhirnya Saya bisa menjadi seperti sekarang ini”, tuturnya
Lanjutnya agar setiap individu memiliki jiwa kepemimpinan caranya dengan menumbuhkan kemauan, kemampuan dan niat. “Kepemimpinan adalah sesuatu hal yang bisa dipelajari. Yang penting teteg di hati dan ditambah dengan semangat”, urainya.
Hendi menambahkan bahwa terdapat 4 golongan pemuda saat ini, yaitu pemuda yang pintar tapi tidak peduli, pemuda yang peduli tapi tidak pintar yang sering menyebar berita-berita hoax,  pemuda yang tidak peduli dan tidak pintar seperti anak-anak SMA yang suka tawuran, serta pemuda yang pintar dan peduli.
“Saya berharap seluruh mahasiswa yang hadir di sini tergolong sebagai pemuda di kategori keempat yang mana akan menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia”, pungkasnya.
Ditambahkannya, pintar dan peduli saja itu belum cukup. Tetapi perlu juga sebuah nyali untuk mengatakan sesuatu yang benar. Dengan didukung prinsip-prinsip yang benar dan sesuai dengan ajaran agama masing-masing.