• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Semarang Menuju Peningkatan Produksi Air Bersih

 22-11-2017 13:08 WIB    by Admin    Dilihat: 807 kali Berita Kota

Semarang – Persoalan ketersediaan air bersih adalah salah satu hal yang penting bagi lingkungan perkotaan besar seperti kota Semarang dengan berbagai pertumbuhan dan perkembangannya. Berbagai permasalahan klasik tentang matinya air PAM, keluhan pelayanan dan turunnya debit air sudah sering terdengar. Untuk membedah persoalan ketersediaan air bersih ini, Selasa (21/11) TVKU Semarang mengundang Direktur PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, Etty Lakshmiwati dan Direktur LP2K (Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen) Kota Semarang, Ngargono dalam acara dialog interaktif. 

Menurut Etty Lakshmiwati, saat ini  memang masih ada kendala dan perbaikan saluran-saluran air bersih di beberapa tempat. Ketersediaan air bersih di Kota Semarang sedang dalam proses hingga tahun 2020 dengan dana APBN pemerintah pusat akan sanggup memproduksi air bersih sebanyak 1850 liter/detik, sedangkan untuk sementara ini jumlah produksi air bersih masih di kisaran 1000 liter/detik. Sementara Ngargono menilai coverage area sekarang ini baru 62 % apakah penambahan produksi air bersih tersebut dapat berbanding lurus dengan potensi pertumbuhan penduduk.

“Pertumbuhan Kota Semarang sebagai Kota Metropolitan tentu pertumbuhan penduduknya akan berbanding lurus dengan penambahan permintaan air bersih”, sambung Ngargono.

Lebih Lanjut Ngargono menilai persoalan air bersih itu bukan hanya tanggung jawab dari PDAM yang notabene hanyalah instrumen pelaksana, sehingga perlu kepedulian yang lebih besar dari pemerintah kota Semarang dalam memberikan support yang lebih besar kepada PDAM.

Etty juga menanggapi bahwa pihak PDAM juga membuka saluran komunikasi baik melalui media sosial maupun media cetak bila terjadi gangguan, meski belum maksimal karena keadaan di lapangan. Pihaknya selalu berusaha agar tiap permasalahan tidak dibiarkan berkepanjangan sehingga berbagai masukan dari semua pihak terkait akan sangat bermanfaat. Etty menambahkan bahwa memang area yang belum terjangkau saluran PDAM dikarenakan animo masyarakat belum tinggi untuk menjadi pelanggan PDAM, terutama di daerah pinggiran.

“Semarang ini memang air bawah tanahnya masih cukup bagus, sehingga masyarakat masih cukup nyaman menggunakan air bawah tanah yang dimiliki, hal tersebut yang menjadi pertimbangan kenapa PDAM belum berinvestasi membuka saluran diarea tersebut” tambah Etty.

Menurut Ngargono, sebenarnya masyarakat memilih sumber air bersihnya berkaitan erat dengan faktor ekonomi dalam hal ini pilihan-pilihan harga yang harus dibayar dan belum ada kesadaran bahwa menggunakan air bawah tanah secara terus-menerus juga mempunyai dampak kerusakan lingkungan.

“Memang begitulah perilaku konsumen, apa yang paling enak bagi kita ya kita ambil,” Lanjut direktur LP2K  Semarang ini.

Ngargono juga menyinggung bagaimana mengedukasi masyarakat agar memiliki kesadaran lingkungan mengingat kondisi permukaan air laut yang makin naik dari tahun ke tahun di kota Semarang, maka sangat penting untuk lebih memiliki kesadaran lingkungan dalam pengelolaan produksi air bersih.

“Jangan wariskan air mata, tapi wariskan mata air,” kata Ngargono mengutip kata bijak.

Pada Sesi tanya jawab dengan penelpon, Etty lebih banyak memberi penjelasan tentang prosedur berlangganan dan beberapa hal-hal teknis PDAM yang perlu diketahui masyarakat luas,

Sementara Ngargono lebih banyak membahas dari sudut pandang kepentingan konsumen dan lingkungan.

Sesi dialog ini ditutup dengan kesimpulan bahwa tanggung jawab produksi air bersih di Semarang adalah tanggung jawab Pemerintah Kota Semarang dan  pihak-pihak terkait serta pentingnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.