• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Wali Kota Semarang : Tinggalkan Budaya “Asal Bapak Senang”

 18-12-2017 20:29 WIB    by Admin    Dilihat: 260 kali Berita Kota
Semarang – Senin (18/12) pagi, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi memimpin apel pagi terpusat di Balaikota Semarang. Menjelang akhir 2017 apel pagi sekaligus menjadi kesempatan segenap jajaran pemerintah kota Semarang melakukan koreksi dan konsolidasi terhadap kinerja dan program-program yang sudah berjalan selama tahun 2017.

Hendrar Prihadi pada kesempatan ini memberikan arahan kepada seluruh jajaran pemerintah kota agar di waktu tersisa tahun 2017 segera menyelesaikan pekerjaan dengan baik sempurna dan masyarakat tetap sejahtera dan hebat. “Beberapa penghargaan terus diberikan oleh pemerintah pusat mau pun lembagaa lain kepada kita semuanya,” lanjut Hendi,  sapaan akrab Wali Kota.

Hendi menyebutkan ada 7 penghargaan yang diberikan pemerintah pusat dalam dua minggu terakhir dikarenakan semua bekerja kompak dan solid. “Kunci sukses sebuah organisasi adalah komunikasi yang baik, vertikalnya baik, horisontalnya baik, kepada elemen masyarakat menyamping juga harus baik,” tambah Hendi.

Hendi mengingatkan agar persoalan ego sentris dan ego sektoral antar dinas masih menganggu walau tinggal sedikit. Lebih lanjut Hendi mengatakan jika sekarang bukan era abs (asal bapak senang), jangan menutupi kekurangan dengan membungkusnya dengan cerita yang baik tetapi dalamnya kropos. Kembali Hendi menyinggung persoalan banjir, meski ada faktor alam tetapi perlu juga diperhatikan faktor drainase dan menumpuknya sampah. “Dari beberapa banyak prestasi ada kemunduran prestasi  yaitu indeks persepsi korupsi,” ujar Hendi.

Hendi mencontohkan kota Semarang pada 2015 menduduki peringkat ke 3 indeks persepsi korupsi, tetapi di akhir 2017, peringkat kota Semarang turun menjadi ke 9.  Hendi menyebutkan tiga hal yang membuat peringat kota Semarang merosot. “ 3 item yang sama dengan korupsi yaitu pelayanan perijinan, pelayanan KTP, dan pelayanan kepada masyarakat secara umum di tingkat kelurahan,” ucap Hendi.

Hendi menghimbau kepada seluruh kepala dinas yang sudah menandatangani pakta integritas agar turun ke bawah untuk mendengarkan laporan masyarakat dan mengatasinya, sehingga penghargaan yang diterima dari pemerintah pusat sesuai dengan kondisi realnya.

“Kita akhiri tahun 2017 dengan sebuah senyuman dengan sebuah kerja manis yang indah dengan sebuah kerja bersama yang membuat Semarang menjadi lebih hebat,” demikian Hendi menutup arahan apel pagi dengan penuh motivasi.