• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Warga Tambakrejo Diminta Legowo

 04-04-2018 08:24 WIB    by Admin    Dilihat: 306 kali Berita Kota
SEMARANG - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang meminta agar warga Tambakrejo, Semarang, yang menolak atas rencana relokasi ke Rusunawa Kudu, agar bersikap legowo. Ia berharap warga bisa mengalah untuk segera pindah ke Rusunawa demi Kota Semarang. 
 
Selain itu Pemkot Semarang juga diminta memerhatikan nasib para nelayan yang terancam kehilangan matapencaharian karena dipindah ke Rusunawa Kudu. Ini mengingat pembangunan normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) sedang berjalan.
 
"Dalam kondisi seperti ini, kami berharap warga bisa mengalah dengan menempati Rusunawa Kudu. Ini demi pembangunan Kota Semarang lebih baik," kata Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, kemarin. 
 
Dia memahami keluhan warga Tambakrejo yang rata-rata bekerja sebagai nelayan. Kurang lebih 150-an nelayan di kawasan Tambakrejo, Semarang, yang terdampak normalisasi Sungai BKT sehingga harus direlokasi dan sudah disediakan relokasi di Rusunawa Kudu.
 
Wajar kalau sebagian nelayan masih menolak karena lokasi Rusunawa Kudu yang jauh dari laut. Sehingga menyulitkan mereka melaut sebagai mata pencaharian mereka sehari-hari.
 
"Kami menyadari mereka tidak mungkin direlokasi ke permukiman yang jauh dari laut. Mereka kan nelayan. living cost-nya yang harus dikeluarkan tentunya lebih besar. Tapi kondisinya sudah mendesak," katanya. 
 
Selain itu, Pemerintah Kota Semarang harus segera menyiapkan Rusunawa bagi nelayan.  Proses pembangunan selalu memiliki dampak positif dan negatif. "Itu bagian dampak negatif. Sedangkan dampak positifnya, pembangunan normalisasi ini untuk menangani persoalan banjir. Yang merasakan juga masyarakat," katanya. 
 
Normalisasi Sungai BKT harus berjalan terus sehingga keberadaan warga yang masih menempati bantaran sungai tentu akan menghambat proses pembangunan yang dilakukan.
 
"Sebaiknya nelayan menempati Rusunawa Kudu sementara sembari menunggu pembangunan Rusunawa bagi nelayan yang rencananya akan dibangun di kawasan Tambaklorok, Semarang," katanya.
 
Sebagai kompensasinya, Pemkot Semarang harus bisa memfasilitasi warga Tambakrejo. Misalnya dengan membebaskan uang sewa Rusunawa setidaknya selama satu tahun. 
 
Sedikitnya, hingga kini Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana mencatat ada 143 hunian di lokasi proyek normalisasi yang masih ditempati warga di Tambakrejo. 73 kepala keluarga di antaranya telah bersedia direlokasi. Sedangkan sisanya menolak. 
 
Sebelumnya, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan pihaknya masih melakukan koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). "Rusunawa bagi nelayan di kawasan Tambaklorok sedang disiapkan. Tetapi pembangunan rusunawa nelayan ini tidak bisa dibangun sekarang. Kurang lebih dua tahun ke depan," katanya.
 
Tahun ini, ada penambahan satu twinblok tower di Rusunawa Kudu merupakan bantuan dari Kementerian PUPR. Hendi sapaan akrab Hendrar Prihadi meminta agar warga nelayan di kawasan tersebut bersabar. "Sementara mau menempati Rusunawa Kudu, nantinya setelah Rusunawa di Tambaklorok selesai dibangun bisa menempati di situ," katanya.