• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Lanskap Banjir Kanal Timur Masa Depan

 09-04-2018 08:53 WIB    by Admin    Dilihat: 2065 kali Berita Kota

SEMARANG – Masyarakat tentunya penasaran seperti apa kemegahan lanskap sungai Banjir Kanal Timur (BKT) yang selama ini kerap membawa petaka banjir,  bakal disulap menjadi tempat wisata kebanggaan Kota Semarang. Megaproyek normalisasi sungai BKT ini memang menyedot perhatian. Selain ada ribuan warga terkena dampak dan harus menyingkir, proyek ini juga melahap sekurang-kurangnya Rp 560 miliar. 

Tetapi proyek ini digadang-gadang bakal menjadi terobosan yang membawa perubahan mencolok di Kota Semarang. Sebab, kawasan bantaran sungai BKT yang selama ini dikenal kumuh, semrawut, dan langganan banjir, bakal disulap menjadi tempat yang cantik menawan. 

“Kami maksimalkan dari muara hingga jembatan Majapahit, landscape-nya nantinya untuk fasilitas umum,” kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Ruhban Ruzziatno, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (8/4). 

Dikatakannya, lahan sepanjang bantaran sungai BKT tersebut bakat difungsikan dan diberikan fasilitas yang nyaman untuk masyarakat. Di antaranya terbagi atas, Zona Sarana Rekreasi dan Zona Sarana Olahraga. 

“Sarana rekreasi di daerah zona ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Sebab, selama ini tempat bermain anak-anak sangat kurang. Oleh karenanya diperlukan sarana rekreasi,” katanya. 

Di antaranya permainan anak-anak seperti sepeda, sepatu roda, serodotan, permainan tangga, dan lain lain yang tidak membahayakan. Selain itu juga taman-taman yang indah dilengkapi tempat duduk sambil menikmati sungai. Sebagai tempat bersosialisasi antar warga, bisnis, maupun untuk beristirahat mencari ketenangan. 

“Zona Sarana Olahraga yang terpilih olahraga futsal, volley dan basket. Olah raga ini tidak membutuhkan jumlah pemain terlalu banyak. Sehingga pengumpulan pemain didapatkan dengan mudah,” katanya. 

Sedangkan perencanaan konsep ini bisa dibagi menjadi beberapa zona. Pertama, Zona Jembatan Majapahit-Jembatan Kartini: daerah Gayamsari seluas 6,24 hektare terdiri atas Zona Olah Raga (1 lokasi), Zona Rekreasi (1 lokasi), Daerah Karang Tempel (6,72 hektare) terdiri atas Zona Olah Raga (1 lokasi), Zona Rekreasi (3 lokasi). 

Zona Jembatan Kartini – Jembaran Citarum, meliputi daerah Sambirejo (3,68 hektare) terdiri atas: Zona Rekreasi (1 lokasi), daerah Rejosari (5,90 hektare) terdiri atas: Zona Rekreasi (1 lokasi ). Selanjutnya adalah Zona Jembatan Citarum Jembatan Kaligawe, yakni daerah Sawah Besar dan Pandansari (4,7 hektare) terdiri atas: Zona Rekreasi (2 lokasi), Zona Olahraga (1 lokasi), daerah Mlatiharjo (6,43 hektare) terdiri atas Zona Rekreasi (1 lokasi). 

“Nantinya bisa dilihat lanskap yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Spacenya agak luas, nanti ada banyak fasilitas seperti lapangan baseball, futsal lapangan terbuka, jogging track, taman anak-anak, dan masih banyak yang lain,” katanya. 

Dikatakannya, adanya pembangunan normalisasi BKT ini selain menyelesaikan persoalan banjir juga sekaligus memberi fasilitas yang bermanfaat bagi masyarakat. “Progres pembangunan sekarang ini baru tahap awal. Kondisi sungai sendiri masih sangat sempit, luas sungai sekarang ini 15 meter. Nantinya sesuai dengan DED (detail engineering design), lebarnya menjadi 60-an meter,” katanya.  

Harapannya bisa dilakukan percepatan. Sesuai target selesai 2019. Tetapi dengan percepatan diharapkan bisa selesai 2018 akhir. “Itu belum menyentuh daerah Jembatan Majapahit hingga Pucanggading, lho. Kecuali kalau mulai sekarang Pemkot Semarang bisa menyelesaikan pembebasan lahan dari Jembatan Majapahit hingga Pucanggading. Untuk bagian atas memang belum diajukan anggarannya,” katanya. 

Mengenai proses pembangunan, saat ini sedang berjalan. Kontraktor siap tancap gas untuk melakukan percepatan pembangunan. Ada tiga paket. Paket 1 dimulai dari muara pantai hingga jembatan kereta api, panjangnya 1,95 kilometer. Nilai kontraknya Rp 107.878.670.000. Paket 2, dari jembatan kereta api hingga Jembatan Citarum, panjangnya 2,05 kilometer. Nilai kontraknya Rp 169.335.319.000. sedangkan Paket 3, dari Jembatan Citarum hingga Jembatan Majapahit, panjangnya 2,7 kilometer. Nilai kontraknya Rp 187.099.224.000.

“Progres on schedule, saat ini masih memperlebar palung sungai. Elevasi bantaran sesuai direncanakan. Saat ini belum bisa menyentuh sepenuhnya tanggul, karena kaitannya dengan permukiman. Kami mengerjakan wilayah yang siap dikerjakan secara cepat,” katanya.  

Berdasarkan kontrak, proyek ini dikerjakan multiyears mulai 27 Desember 2017 hingga 16 Desember 2019. “Ketiganya dikerjakan serentak atau berbarengan, karena kontraktornya sendiri-sendiri. Istilahnya nanti cepet-cepetan lah, karena kami nanti akan lakukan percepatan. Meskipun kontraknya hingga Desember 2019, tapi kami kejar supaya segera bisa dinikmati masyarakat dan terbebas dari banjir,” katanya.

Konsep penataan lingkungan sungai BKT merupakan konsep secara kesinambungan menjadi zona Amenity (kenyamanan). Diharapkan  masyarakat dapat turut serta  dalam pemeliharaan terhadap kebersihan maupun perawatan lingkungan yang akan ditata. “Manfaat amenity, selain sebagai tempat berkumpul, dapat dijadikan tempat untuk berdiskusi maupun membicarakan masalah bisnis, bermain anak-anak, olahraga, maupun bersantai di pagi hari, malam hari dan hari libur. Sungai juga dapat dijadikan tempat untuk rekreasi air. Misalnya dipergunakan untuk lomba perahu,” katanya. 

Sekretaris Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, M Farchan mengatakan sesuai rencana semula, proyek normalisasi Banjir Kanal Timur memiliki panjang 14,8 kilometer. Ada dua tahap pengerjaan, yakni tahap 1; Jembatan Majapahit menuju hilir di Tambaklorok kurang lebih sepanjang 6,7 kilometer. Sedangkan tahap 2; mulai dari Jembatan Majapahit hingga Pucanggading kurang lebih sepajang 7,7 kilometer. "Lebar sungai Banjir Kanal Timur menjadi 65 meter untuk bagian permukaan. Sedangkan bagian bawah memiliki lebar 50 meter. Bentuk seperti huruf U," terangnya.

Banjir Kanal Timur saat ini mengalami pendangkalan cukup parah akibat sedimentasi. Selain terjadi penurunan kapasitas saluran akibat sedimentasi, sampah dan bangunan liar juga turut memperparah pendangkalan. Diperkirakan, kata dia, hasil pengerukan sedimentasi Banjir Kanal Timur akan menghasilkan limbah buangan dengan volume 900 meter hingga 1 juta meter/kubik. "Bekas kerukan sedimentasi ini dimanfaatkan untuk menguruk lahan di proyek Kampung Bahari Tambak Lorok dan sawah besar," imbuhnya.

Sedangakan, total warga yang terkena dampak pembangunan proyek BKT sebanyak 4.097 tanah dan bangunan di 21 kelurahan. Rinciannya, tahap 1 sebanyak 2.758 warga berada di 12 kelurahan. Sedangkan di tahap 2 sebanyak 1.339 warga.