• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

` ` ` Dulu Ketinggalan Kini Semarang Jadi Acuan ` ` `

 03-05-2018 15:18 WIB    by Admin    Dilihat: 380 kali Berita Kota
HUT Kota Semarang ke-471, 2 Mei 2018 (jadi 5 Acuan Pembangunan Indonesia)
 
Hari ini, tepat tanggal 2 Mei 2018 seluruh masyarakat Kota Semarang merayakan hari jadi kotanya yang ke-471 setelah disahkan oleh Sultan Hadiwijaya pada tanggal 2 Mei 1547. Banyak sejarah penting tercatat dalam perjalanan Kota Semarang yang hanya berselisih 20 tahun lebih muda dari Ibu Kota Jakarta ini. Salah satu catatan sejarah yang paling dikenal bisa jadi adalah peristiwa pertempuran lima hari di Semarang pada masa kemerdekaan tahun 1945, yang kemudian dikenang melalui monumen Tugu Muda yang terletak di tengah Kota Semarang.
 
Dalam perisiwa pertempuran lima hari, dikisahkan bagaiman pemuda Kota Semarang dengan hebatnya berani menyerang tentara Jepang yang tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia. Dan peristiwa heroik pemuda Kota Semarang pada tanggal 15-19 Oktober 1945 tersebut seakan menjadi pembuka babak baru perjuangan Indonesia, yang setelahnya diwarnai dengan peristiwa-peristiwa heroik lainnya seperti perisitiwa Pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945, hingga peristiwa Bandung Lautan Api pada tanggal 23 Maret 1946.
 
Sayangnya, selain kisah kepahlawanan pertempuran lima hari di Kota Semarang tersebut, hampir tak ada catatan sejarah lainnya yang umum dikenal oleh masyarakat dan dibanggakan. Maka wajar ketika orang kebanyakan hanya mengenal kehebatan Kota Semarang sebatas Tugu Muda saja. Selebihnya bahkan orang lebih mengenal Kota Semarang lewat lantuan lagu lawas berjudul ‘Jangkrik Genggong’ dengan penggalan liriknya yang terkenal, ‘Semarang Kaline Banjir’.
 
“Kota Semarang Ketinggalan”, ungkapan tersebut kemudian menjadi kalimat yang familiar diucapkan, bukan hanya oleh orang dari luar Kota Semarang, tetapi juga bahkan oleh masyarakatnya sendiri. Ungkapan tersebut tentu saja tak aneh bila melihat kondisi Kota Semarang yang sempat menjadi daerah pusat kegiatan perdagangan di Pulau Jawa pada jaman kolonial ini, kemudian justru tak berkembang dengan baik seperti kota-kota besar lainnya di Indonesia. Hal ini tentu saja yang kemudian membuat Kota Semarang dulu tak pernah luput dari kritik dari berbagai pihak.
 
Sebuah indikator yang menjadi gambaran tertinggalnya Kota Semarang dibanding kota lain misalnya pada capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indikator tersebut menjadi capaian representasi akumulatif penting bagi sebuah kota dimana terdiri dari komponen capaian ekonomi, pendidikan, serta kesehatan, yang mana pada tahun 2010 capaian IPM Kota Semarang hanya berkisar pada angka 76.96 saja.
 
Sebagai Ibu Kota Jawa Tengah, capaian IPM Kota Semarang pada tahun 2010 yang sebesar 76,97 tersebut adalah sangat memprihatinkan karena berada jauh di bawah kota lain di Jawa Tengah, seperti Kota Surakarta (Solo) dengan capaian 77.45 pada tahun yang sama, bahkan juga dibawah Kota Salatiga dengan capaian 78.35.
 
Kota Semarang Berubah
 
Namun Kota Semarang kini telah berubah, di tangan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, catatan-catatan buruk tersebut mulai dihapus satu per satu. Dengan konsep pembangunan ‘Bergerak Bersama’, Wali Kota Semarang yang akrab disapa Hendi tersebut berhasil menggerakkan seluruh elemen masyrakat di Kota Semarang untuk bangkit mengejar ketertinggalan. Alhasil Kota Semarang kembali sebagai kota yang pantas disebut sebagai Ibu Kota Jawa Tengah.
 
Tercatat IPM (Indek Pembangunan Manusia) Kota Semarang di tangannya pada tahun 2017 berhasil mencapai angka 82.01, yang mana telah menjadi capaian tertinggi di Jawa Tengah terkait komponen ekonomi, pendidikan , dan Kesehatan. IPM Kota Semarang di bawah kepemimpinan Hendi dengan capaian angka 82.01 itu jauh lebih tinggi dibanding kota-kota lain di Jawa Tengah yang sebelumnya mengungguli Kota Semarang. Sebut saja Kota Salatiga yang pada tahun 2017 mencatatkan IPM sebesar 81.68, atau Kota Surakarta (Solo) dengan catatan IPM 80.85.
 
Tak hanya itu, ungkapan Kota Semarang sebagai Ibu Kota Provinsi paling tertinggal di Indonesia pun berhasil dihapus dengan capaian Indek Pembangunan Manusia Kota Semarang yang berhasil mengungguli ibu kota provinsi lainnya di Indonesia. Dengan IPM di tahun 2017 sebesar 82.01, kesejahteraan masyrakat di Kota Semarang unggul jauh dibanding masyarakat Kota Bandung dengan capaian IPM 80.32, Kota Surabaya dengan IPM 81.07, Kota Makassar dengan angka 81.13, atau Kota Medan dengan 79.87, bahkan Kota Padang yang IPM nya sebesar 81.58 pada tahun 2017.
 
Dan atas lompatan besar yang dilakukan itupun, kini Kota Semarang juga menjadi acuan pembangunan daerah-daerah lain di Indonesia. Setidaknya ada 5 pecapaian Kota Semarang di bawah kepemimpinan Wali Kota Hendrar Prihadi (Hendi) yang kini menjadi tolok ukur penting pembangunan Indonesia.
 
Jadi Acuan Pelayanan Publik
 
Pada tahun 2017 dan 2018, nama Hendi berturut-turut disebut oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia sebagai Kepala Daerah Terbaik di Indonesia dalam hal pelayanan publik. Predikat tersebut diraihnya setelah berhasil melakukan reformasi birokrasi di dalam Pemerintah Kota Semarang. “Lebih Cepat, Lebih Tepat, Lebih Hangat”, tiga hal tersebut diucapkan Hendi untuk menggambarkan kondisi birokrasi Pemerintah Kota Semarang saat ini di bawah komandonya.
 
Salah satu perubahan terbesar yang dilakukannya pada Pemerintah Kota Semarang adalah pemotongan jalur birokrasi melalui pengaplikasian Smart Government. Hingga hari ini tercatat ada 204 sistem perangkat lunak yang diterapkannya dalam berbagai urusan pelayanan Pemerintah Kota Semarang, mulai dari penerapan pengurusan perijinan online dengan Aplikasi SIIMUT (Sistem Izin Investasi Mudah dan Terpadu), hingga penerapan digitalisasi pengawasan kinerja satuan kerja pemerintah melalui Situation Room di Balaikota Semarang.
 
Jadi Acuan Penerapan Smart City
 
Penerapan Smart Government dalam tubuh Pemerintah Kota Semarang itu sendiri menjadi bagian dari program Semarang Smart City yang diinisiasi sejak tahun 2013. Dan dengan rintisan tersebut, Hendi pun membawa Kota Semarang sebagai salah satu kota pertama yang menjadi percontohan Smart City di Indonesia. Hal itu dikuatkan dengan sebuah penghargaan yang diberikan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla pada tahun 2017, dengan menobatkan Kota Semarang sebagai Kota Cerdas Indonesia 2017.
 
Beberapa penerapan Smart City di Kota Semarang yang dianggap sebagai sebuah inovasi besar di Indonesia antara lain adalah sistem pelaporan online masyarakat melalui program ‘Lapor Hendi’, sistem pemantauan lalu lintas kota melalui aplikasi Semarang Area Traffic Control System, serta program laporan kegawat daruratan terpadu melalui Call Center 112.
 
Jadi Acuan Inovasi Fasilitas Kesehatan
 
Dengan layanan Call Center 112, masyarakat dapat mengakses berbagai layanan kegawatdaruratan yang disediakan oleh Pemerintah Kota Semarang, salah satunya adalah layanan ambulance gratis 24 jam milik Pemerintah Kota Semarang bernama ‘Ambulance Hebat’. Layanan ambulance gratis itu sendiri menjadi bagian dari sejumlah inovasi fasilitas kesehatan yang lahir di era kepemimpinan Wali Kota Hendi.
 
Selain ‘Ambulance Hebat’, Hendi juga berhasil merealisasikan layanan fasilitas kesehatan berobat gratis bagi seluruh masyarakat Kota Semarang melalui program “Universal Health Coverage”. Dan dengan berbagai inovasi di bidang kesehatan tersebut, Hendi pun membawa Kota Semarang menjadi daerah dengan Angka Harapan Hidup (AHH) tertinggi di Indonesia.
 
Tercatat Angka Harapan Hidup (AHH) masyrakat Kota Semarang tahun 2017 adalah sebesar 77,21 tahun, jauh lebih tinggi mengungguli daerah-daerah lain di Indonesia, sebut saja Kota Yogyakarta dengan AHH 74,35 tahun, Kota Denpasar 74,17 tahun, Kota Surabaya 73,88 tahun, Kota Bandung 73,86 tahun, Kota Jakarta Selatan 73,84 tahun, Kota Medan 72,4 tahun, atau juga Kota Makassar dengan capaian 71,51 tahun.
 
Jadi Acuan Pengembangan Pariwisata
 
Tak hanya tentang sektor kesehatan, terkait peningkatan ekonomi masyarakat, Kota Semarang juga berhasil berkembang dengan sangat cepat. Hal itu didapatkan setelah Hendi mengambil keputusan berani dengan lebih mendorong Kota Semarang sebagai kota wisata, ketimbang sebagai kota industri yang dulu diyakini sebagai jati diri kegiatan ekonomi kota lumpia tersebut. Dalam berbagai kesempatan, pria yang juga merupakan politisi PDI Perjuangan tersebut meyakini peningkatan sektor pariwisata dapat menghasilkan kondisi ekonomi masyrakat yang lebih merata.
 
Hasil positif pegembangan pariwisata Kota Semarang sudah terlihat sejak tahun 2016, dimana pada saat itu Kementrian Pariwisata menyebut Kota Semarang sebagai daerah dengan Indek Pariwisata Tertinggi kelima di Indonesia. Tren positif tersebut terus berlanjut hingga pada tahun ini, Hendi didapuk sebagai salah satu role model dalam Rakor Kementrian Pariwisata tahun 2018 di Bali.
 
Jadi Acuan Efisiensi Pembangunan Daerah
 
Kesuksesan pembangunan pariwisata di Kota Semarang adalah menjadi salah satu representasi tingginya komitmen pembangunan daerah yang dilakukan Pemerintah Kota Semarang saat ini. Dan pencapaian-pencapaian tersebut tentu saja menjadi sebuah hal yang luar biasa, bila menilik anggaran belanja daerah Pemerintah Kota Semarang yang tak sebesar daerah-daerah lain di Indonesia.
 
Sebagai contoh pada tahun 2018, Kota Semarang hanya memiliki dana sebesar 5,1 triliun sebagai modal pembangunan. Jumlah tersebut relatif jauh lebih kecil jika dibandingkan kota besar lain seperti Kota Surabaya yang memiliki anggaran belanja daerah di tahun 2018 sebesar 9,1 triliun, atau bahkan Kota Bandung yang sekitar 6,6 triliun.
 
Dan atas efisiensi pembangunan yang dirumuskan oleh Pemerintah Kota Semarang bersama Hendi itu, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pun mengundang dirinya Wali Kota Semarang tersebut ke istana presiden untuk dianugerahi penghargaan tertinggi Dana Rakca 2017.