• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Lokalisasi Argorejo Ditutup Akhir Tahun Ini

 07-05-2018 11:21 WIB    by Admin    Dilihat: 4672 kali Berita Kota
SEMARANG - Rencana penutupan Resosialisasi Argorejo atau sering disebut lokalisasi Sunan Kuning berkali-kali mencuat. Namun hal itu seperti hanya kabar burung belaka. Sebab belum ada progres berarti. 

Namun Dinas Sosial Kota Semarang kembali menargetkan bahwa Resosialisasi Argorejo bakal ditutup akhir tahun 2018 ini. Hal itu menjadi desakan dari Kementrian Sosial yang menargetkan 2019 di setiap kabupaten/kota di Indonesia bebas dari praktik prostitusi. 

"Pemerintah Kota Semarang menargetkan Resosialisasi Argorejo dapat ditutup pada akhir tahun 2018 ini," kata Kepala Dinas Sosial Kota Semarang Tommy Y Said, Rabu (18/4). 

Dia menegaskan, akhir tahun ini bisa merealisasikan penutupan tempat prostitusi terbesar di Kota Lumpia ini. Ia juga mengaku telah melaksanakan tahapan-tahapan untuk menuju penutupan tersebut. Di antaranya melakukan pelatihan-pelatihan wirausaha maupun keterampilan bagi para penghuni. "Kami minta semua pihak yang berkaitan dengan Argorejo bisa legowo," katanya. 

Dijelaskannya, konsep penutupan Resosialisasi Argorejo tidak sertamerta mematikan aktivitas di sana. Tetapi akan diubah menjadi tempat yang lebih produktif dan positif. "Misalnya menjadi pusat wisata kuliner. Prinsipnya tempat itu nantinya digunakan sebagai aktivitas positif dan produktif," katanya. 

Maka dari itu, lanjut Tommy, masyarakat yang memiliki lahan tempat di lokasi tersebut harus bisa bekerjasama dengan Pemkot Semarang dengan mengubah pola pikir kreatif dan positif. "Sejauh ini kami juga telah memberikan sosialisasi, termasuk memberikan pelatihan tata boga dan lain-lain," katanya. 

Ia mengaku tidak khawatir, setelah Argorejo ditutup para penghuni akan bertebaran di sudut-sudut Kota Semarang. "Makanya akan terus dilakukan pendekatan sehingga hal tersebut tidak terjadi. Prinsipnya terus kami pantau. Toh, hampir semua penghuni selama ini kooperatif dan setuju ditutup," katanya. 

Ketua Pemuda Muhamadiyah Kota Semarang AM Jumai mengatakan, pihaknya mendukung rencana penataan Pemkot Semarang mengenai rencana penutupan tempat lokalisasi tersebut. Tetapi ia menyarankan agar Pemkot Semarang memiliki persiapan matang. "Apalagi melibatkan hajat hidup orang banyak. Prinsipnya, kami mendukung penuh rencana tersebut," katanya. 

Tetapi Pemkot Semarang juga harus siap menyelesaikan persoalan setelah ditutup. Sebab, hal yang menjadi masalah justru persoalan pasca penutupan. "Pemerintah harus memikirkan hal itu," Katanya. 

Tentu saja, lanjutnya, rencana penutupan Argorejo harus mengedapankan nilai kemanusiaan, hal ini perlu dilakukan untuk menghindari adanya konflik. "Perlu kajian secara komprehensif. Kalau sekadar penutupan itu mudah. Tetapi menyelesaikan persoalan pasca penutupan itu yang tidak mudah. Sosialisasi pemkot bagus. Saya rasa tinggal bagaimana menonjolkan nilai kemanusiaan. Jangan sampai ada pemaksaan, apalagi menelantarkan. Tentunya perlu identifikasi secara jelas," katanya.

Aktivis dan Pemerhati Sosial, Paskalis Abner, sebelumnya menilai, jangan sampai penutupan lokalisasi hanya dilatarbelakangi oleh kemauan pihak tertentu atas alasan politik. Paskalis menyoroti rencana penutupan Lokalisasi Argorejo tersebut, kenapa pemerintah tidak memikirkan soal bagaimana orang-orang di lokalisasi tersebut agar bisa mengembangkan hidup lebih lanjut tanpa harus bekerja sebagai pekerja seks?  “Lebih tepatnya alihfungsi, bukan penutupan. Ini yang tidak mudah. Saya khawatir, pemerintah ini hanya membunuh api kecil. Sedangkan api yang besar tidak diselesaikan,” katanya. 

Ia menyontohkan penutupan lokalisasi di Surabaya. Apakah setelah lokalisasi setelah ditutup, kemudian bisnis prostitusi tersebut berhenti? Ternyata tidak. Mungkin tempatnya itu memang benar-benar tutup. Tetapi prostitusi tetap berlangsung di lain tempat. “Di luar sana justru semakin merebak. Nah, justru yang seperti ini malah semakin tidak bisa dipantau dan tidak bisa didampingi, karena mereka tumbuh subur di mana-mana. Di Surabaya masih ada tuh,” katanya. 

Nah kalau begitu, tujuan penutupan lokalisasi untuk apa? Kalau tujuannya atas pertimbangan moral saja ternyata tidak bisa menjawab. Kalau penutupan itu ingin  menghilangkan lokalisasi besar, ternyata juga tidak bisa menjawab. “Karena prostutusi kecil-kecil justru tumbuh di mana-mana. Pemerintah justru akan kesulitan memonitor, mendampingi, termasuk menelusuri penyebaran penyakit IMS, HIV dan AIDS. Nah, itu sudah diperhitungkan secara matang apa belum?” katanya.