• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Tambak Terboyo Kulon Akan Dibangun Instalasi Pengolahan Limbah

 17-07-2018 14:22 WIB    by Admin    Dilihat: 268 kali Berita Kota
SEMARANG - Kawasan berupa tambak di Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk rencananya akan dibangun Instalasi Pengolahan Limbah (IPL) oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Kawasan tambak tersebut nantinya akan diuruk menggunakan tanah kerukan sedimentasi Sungai Kanal Banjir Timur (KBT).

Kepala DLH Kota Semarang, Gunawan Saptogiri mengatakan, dengan rencana pembangunan tersebut, sejumlah teruk pengangkut tanah sedimentasi Sungai KBT mulai membuang tanah muatan ke area tambak. Namun, hal itu kemudian urung dilakukan lantaran mendapat penolakan dari pengelola tambak.
 
"Ketentuan pembuangan tanah itu sudah ada dalam Amdal (Analisis mengenai dampak lingkungan) normalisasi KBT. Di lokasi itu juga ada instalasi pengolahan limbah tinja (IPLT) milik Pemkot. Sehingga akan kami perbesar lagi fungsinya menjadi IPL," ungkapnya, Senin (16/7).

Gunawan menyebutkan, lahan di kawasan tersebut awalnya menjadi objek sengketa dengan warga yang membangun hunian liar sejak lama. Namun, Pemkot Semarang telah memenangkan gugatan sehingga status lahan tersebut kini menjadi milik Pemkot.
 
Gunawan menambahkan, dengan adanya penolakan dari warga setempat, maka pihaknya akan berkoordinasi lebih lanjut dengan warga yang masih berada di area tersebut. Hal ini supaya proses percepatan normalisasi Sungai KBT tidak terhambat lantaran kekurangan tanah disposal.

"Sebetulnya kalau sudah sampai putusan pengadilan, itu kan sudah menjadi pemberitahuan. Itu lahan Pemkot. Tapi kami akan komunikasikan lagi dengan warga nantinya," imbuhnya.

Menurutnya, saat ini IPLT yang sudah ada telah berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektar. Rencananya kawasan tambak tersebut akan diuruk agar menjadi daratan. Selanjutnya, DLH akan mengembangkan IPLT menjadi IPL.

Selama ini, lanjut Gunawan, di Kota Semarang belum ada IPL yang dibangun. Adanya pembangunan ini, nantinya seluruh limbah yang ada di Kota Semarang bisa dibuang di area tersebut untuk diolah. Salah satu limbah yang dapat dibuang ditempat tersebut adalah limbah medis.

"Kami ingin tidak hanya tinja saja tetapi juga limbah. Kalau dibuang tempat lain, belum ada tempat. Jika sudah ada insenerator, maka seluruh limbah bisa dibuang disitu. Selain lokasinya yang tidak jauh, juga bisa mendatangkan PAD," jelasnya.

Namun demikian, Gunawan belum bisa memastikan kapan pembangunan IPL akan dilakukan. Untuk saat ini pihaknya ingin melakukan pengurukan terlebih dahulu dengan menggunakan tanah sedimentasi Sungai KBT.

Untuk diketahui, sebelumnya pengelola tambak di Kelurahan Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, menolak area tambaknya dijadikan area pembuangan (disposal) tanah lumpur hasil pengerukan sedimentasi Sungai KBT. Alasannya, tambak tersebut masih aktif dan sebentar lagi memasuki masa panen.

Seorang pengelola tambak bandeng, Teha Edy Djohar mengatakan, penolakan terjadi pada 10 Juli lalu. Saat itu, beberapa truk pengangkut tanah lumpur datang dengan kawalan petugas Satpol PP dan kepolisian. Seketika, Edy bersama beberapa pengelola tambak lainnya langsung menghalangi pembuangan disposal.

"Tanpa pernah diajak bicara, banyak truk datang dengan kawalan petugas, mau buang tanah lumpur di tambak. Ya kami hentikan kegiatannya karena tambak kan masih ada ikannya," ujar Edy.

Ketegangan sempat terjadi saat Edy bersama rekannya petambak lain menghalangi truk pembuang lumpur dan para petugas. Pada saat itu, Edy dianggap menghalangi program pemerintah yaitu normalisasi Sungai KBT yang saat ini sedang berlangsung.

Namun, Edy menolak dianggap menghalangi program pemerintah. Meski demikian, Edy membenarkan jika lahan di kawas tambak tersebut memang telah dimiliki Pemkot Semarang. Namun, Edy dan petambak lainnya merasa telah bertahun-tahun mengelola kawasan tersebut.

"Yang jadi persoalan, tambaknya masih ada ikannya. Saya tidak mempersoalkan kalau lahan itu dipakai untuk disposal karena memang milik Pemkot. Tapi setidaknya kami diajak bicara dulu, diomongi dulu," tegasnya.

Kejadian tersebut, sambung Edy, merupakan bentuk arogansi pemerintah karena sebelumnya tidak ada sosialisasi atau pembicaraan dengan warga terkait disposal tanah lumpur pengerukan sedimentasi Sungai KBT.

Padahal, lanjut dia, saat ini tambak ikan tersebut tengah memasuki masa panen dan beberapa tambak lainnya masuk paruh panen.

"Kami tidak diberitahu sebelumnya, tau-tau sejumlah dump truk membawa lumpur datang dikawal aparat hendak menimbun tambak-tambak ikan yang sedang kami kelola. Saya merasa tidak diorangkan," tukasnya.