• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Hendi: Tutup Lokalisasi Bukan Ajang Seremonia

 10-08-2018 09:02 WIB    by Admin    Dilihat: 286 kali Berita Kota
SEMARANG- Kebijakan 'Indonesia Bebas Lokalisasi Prostitusi pada 2009' telah dikeluarkan Kementerian Sosial. Tercatat 43 lokalisasi diharapkan bisa ditutup pada 2019, salah satunya Resosialisasi Argorejo.

Terkait hal itu, Wali Kota Semarang mengatakan tak ingin menjadikan penutupan lokalisasi hanya menjadi ajang seremonial saja. Menurut Hendi, banyak aspek yang harus dipertimbang dan ditangani secara komprehensif terkait upaya penutupan lokalisasi tersebut.

"Jika berkaca pada kebijakan Kementrian Sosial bahwa lokalisasi sudah harus dihapus dari Indonesia di 2019, maka Kota Semarang juga harus mengikutinya. Namun penutupan itu jangan cuma sebagai seremoni saja, yang kemudian setelahnya para pelaku prostitusi justru berpotensi melakukan aktifitas serupa ditempat-tempat lain”, tegas Hendi usai menghadiri Focus Group Discussion (FGD) Rencana Tindak Lanjut Resosialisasi Argorejo Kota Semarang di Hotel Grasia Jalan Letnan Jenderal S Parman No 29, Gajahmungkur, Kamis (9/8).

Lebih lanjut Hendi meminta agar dipastikan para anak asuh Resosialisasi Argorejo sudah siap dan terampil untuk melakukan aktifitas positif lain. Tak hanya itu, pasca penutupan pun Hendi meminta agar segera disusun perencanaan yang matang untuk dapat segera merubah kawasan bekas lokalisasi tersebut agar menjadi baru Kota Semarang dengan citra yang lebih positif.

Kendati demikian, ia mengimbau kepada Dinas Sosial agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Ia sudah menginstruksikan kepada agar tidak mengabaikan kelangsungan hidup anak asuh Resosialisasi Argorejo.

Sementara itu, Kabid Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Kota Semarang, Tri Waluyo menyatakan sudah mendapat tiga investor yang berminat mengambilalih lokalisasi itu. Pihaknya mengungkapkan ketiga investor itu telah menjajaki kemungkinan pengambilalihan lahan di Resosialisasi Argorejo.

"Ada tiga investor yang sudah berminat mengambilalih Sunan Kuning. yang satu merupakan investor yang bergerak di bidang UMKM. Adapun yang lainnya merupakan investor berbasis pendidikan. Selain itu juga ada investor lagi tapi saya lupa bisnisnya di bidang apa," kata Tri.

Dia menambahkan bahwa ketiga investor itu dikenal sebagai pemain lokal di Semarang. Namun, ia belum mau membocorkan nama-nama investor yang dimaksud tersebut. "Makanya, kita tetap berupaya membekali mereka dengan  berbagai pelatihan usaha. Mulai dari membuat roti, menjahit, berdagang makanan, dan kewirausahaan lainnya," sergahnya.

Ia mempersilahkan kepada Wali Kota Hendrar Prihadi untuk meneken jadwal eksekusi penutupan Sunan Kuning. Apakah nantinya ditutup akhir 2018 atau 2019, ia menyerahkannya kepada Hendi. "Kebijakan ada di tangan Pak Wali," sambungnya.
 
Ketua Resos Argorejo, Suwandi Eko Putranto mengaku bingung dengan kebijakan Dinsos tersebut. Ia meminta Dinsos merancang kebijakan yang adil bagi penghuni Resosialisasi Argorejo. "Saya tetap menghormati kebijakan mereka. Tapi yang bijaksanalah, kalau ditutup mau cari uang kemana kita nanti. Padahal banyak mucikari belum punya modal buat buka usaha lainnya," tuturnya.
 
Ia berpendapat idealnya pekerja seks dipulangkan bertahap dulu. Dengan jumlah pekerja sebanyak 486 orang, ada baiknya tiap tahun seharusnya dipulangkan berkala masing-masing 100 orang.
"Dengan begitu, mental mereka jadi lebih siap. Tidak terombang-ambing dengan kebijakan yang tidak jelas," paparnya.