• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Inilah Cerita Hendi Semasa Duduk Di Bangku Sekolah

 27-11-2018 08:21 WIB    by Admin    Dilihat: 404 kali Berita Kota
SEMARANG - Ada cerita unik dan lucu yang tak pernah dilupakan oleh Wali Kota Hendrar Prihadi saat duduk di bangku Sekolah Menegah Tingkat Pertama, tepatnya saat bersekolah di SMP Negeri 3 Kota Semarang dulu.
 
Ternyata, sosok orang nomor satu di Kota Semarang yang akrab disapa Hendi ini mengaku dirinya sering terlambat datang ke sekolah dan tidak mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan oleh gurunya. Sehingga, sang guru yang tidak disebutkan namanya oleh Hendi  ini memberikan hukuman spontanya berupa menarik jambangnya.     
 
Pengalaman, pernah dan tidak pernah bisa saya lupakan. Ada satu guru di SMP saya itu  yang kalau ketemu sama anak didik yang telat atau nggak  buat PR itu mesti jambangnya mesti ditarik gini. Kayaknya pelan, tapi sakitnya minta ampun,” seloroh Hendi kepada awak media  usai menjadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Guru Nasional di  Halaman Balaikota Jalan Pemuda,  Kota Semarang, Senin (26/11). 
 
Satu saat, setelah Hendi menjabat sebagai Wali Kota Semarang, dirinya bertemu  dengan guru Bimbingan Konseling (BK) di SMP Negeri  3 Kota Semarang itu dilingkungan Dinas Pendidikan Kota Semarang. Bahagia bercampur haru, saat pertemuan itu sehingga Hendi pun secara spontan menyapa dan bernostalgia dengan guru yang disayanginya itu.  
 
Dan sampai sekarang ini selalu saya ingat, usai upacara peringatan Hari Nasional Guru bertemu sama beliau hari ini ada di lingkungan Pemerintah Kota Semarang, ketemu beberapa tahun yang lalu bertemu dengan beliau dan sudah pensiun. Saya sering mengingatkan beliau, Pak dulu jenengan sering narik jambang saya ini, lho,” tutur Hendi mengingat kejadian beberapa puluh tahun yang lalu. 
 
Hendi menilai, apa  yang dilakukan guru BK-nya masa SMP itu adalah bentuk perhatian dan cara mendidik kedisiplinan guru terhadap murid-murid yang dicintainya. 
 
Ini pola-pola pendidikan jaman dulu  yang memberikan rasa disiplin dan rasa sayang seorang guru yang diwujudkan dalam bentuk seperti itu. Ya kadang-kadang, yang namanya anak-anak ada rajinnya ada mbelernya. Dia  waktu di SMP Negeri 3  guru BK,”  ucap Hendi. 
 
Untuk  itu, Hendi berpesan kepada murid-murid dan siswa-siswi saat ini supaya selalu menjunjung tinggi, hormat dan patuh kepada sosok guru siapapun selama dirinya mengenyam pendidikan demi masa depan yang lebih cerah.  
 
Salah satu  bentuk menghormati dan menjunjung tinggi kepada guru adalah selalu mengajak berdiskusi, bermusyawarah bersama sang guru jika ada masalah yang belum terpecahkan dan terselesaikan.  
 
Murid itu begini, kita dapat ilmu sebagian besar dari guru. Guru itu pasti orang yang lebih tua  dari kita. Sehingga, harapannya kita selalu menghormati bapak/ibu guru. Kemudian juga di dalam kelas itu sekarang sudah bukan satu arah, dua arah, ya diskusi terkait hal-hal di lingkungan sosial, seandainya murid belum paham didiskusikan saja  supaya kualitas pendidikan  di Kota Semarang semakin oke,” pungkas Hendi.