• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Bahan Bakar BRT Trans Semarang Mulai Beralih ke Gas

 09-01-2019 15:47 WIB    by Admin    Dilihat: 239 kali Berita Kota

Pemerintah Kota Semarang dan Kota Toyama Jepang merealisasikan kerja sama konversi bahan bakar solar ke gas untuk Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang, dalam Grand Launching Program Converter Gas BRT Trans Semarang, di Hotel Patra Jasa, Rabu (9/1).

Acara tersebut dihadiri oleh Wali Kota Toyama Masashi Mori, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, dan  Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi.
Masashi Mori mengatakan, kotanya ditunjuk SDGs untuk memberi contoh  upaya yang berhasil untuk perekonomian berkelanjutan. Selain itu mencari solusi masalah di kota lainnya di tingkat perekonomian daerah lainnya, salah satunya di Indonesia.

Pemerintah Kota Semarang lanjut dia, telah terpilih 1 dari 100 kota di yang berhasil mengelola tranportasi umum dengan baik.

Masashi Mori menjelaskan, usaha konversi bahan bakar ini merupakan proyek usulan yang pertama sehingga bisa dipromosikan sebagai model untuk daerah dan kota lain di dunia.

"Sejak September 2017 kami, Kota Toyama melakukan survei yang mempromosikan masyarakat rendah karbon dengan city to city colaboration. Dengan teknologi koverter dari Toyama gas karbon bisa ditekan hingga 40 persen," ujarnya.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, skema pembiayaan Rp10 miliar dalam kerja sama tersebut berasal dari 50 persen bantuan dari Toyama dan 50 persen APBD Kota Semarang.

Menurut dia, proyek tersebut merupakan langkah konkret untuk mengatasi permasalahan kemacetan dan polusi di kota besar.
Teknologi konverter dengan sistem retrofit yang digunakan yaitu 70 persen gas dan 30 persen solar. Kedua bahan bakar itu tetap bisa digunakan, namun solar digunakan cadangan. Ujicoba sudah dilakukan pada 23 Juli 2017 lalu dengan jarak tempuh 16,5 kilometer.

Adapun hasil uji coba, jika berbahan bakar solar maka membutuhkan 5,5 liter dengan biaya Rp28.325, sedangkan bahan bakar campuran solar dan gas membutuhkan 1,48 liter solar dan 4,02 Lsp gas CNG dengan biaya Rp20.084, patokan harga gas di Jakarta Rp3.100. Untuk saat ini sudah ada 72 bus yang menggunakan bahan bakar gas.

Kepala Badan Layanan Umum (BLU) UPTD Trans Semarang Ade Bhakti Ariawan mengatakan, sebanyak 72 bus dari koridor 1, 5, 6, 7, dan koridor Bandara telah dipasang alat konveter BBG .

Manfaat konversi ini kata dia, membuat emisi kendaraan menjadi lebih rendah dan ramah lingkungan. Selain itu biaya operasional lebih murah karena penghematan bahan bakar, dan membuat mesin awet.

Menurut Ade, penghematan bisa dilakukan karena dalam operasional armada, biaya bahan bakar gas menjadi lebih murah. "Konversi dari BBM ke BBG ini tidak 100% menggunakan gas, kami menggunakan sistem yang disebut retrofit, yakni dapat menggunakan gas dan Solar. Bahan bakar solar digunakan sebagai cadangan," katanya.

Ade menegaskan, mengenai keamanan tabung gas, tabung konveter gas yang dipasang sudah melewati uji standar khusus untuk CNG yang memiliki tekanan 200 bar, sehingga berbeda dengan tabung gas LPG.

Tabung Conveter BBG ini dijamin sangat aman jadi tidak perlu khawatir akan meledak seperti tabung LPG dan tabung ini diletakkan dibagian bawah bus. 
Ade menambahkan, valve yang terpasang adalah valve yang aman yang hanya bekerja berdasarkan koneksi dari Electronic Control Unit (ECU). Jika tidak ada perintah dari ECU, gas tidak akan keluar dari tabung.

"Terkait dengan ketahanan tabung, sudah melewati tahapan tes. saat diuji coba, tabung ditembak peluru 12 mm tidak tembus. Sehingga aman digunakan BRT Trans Semarang," tandasnya.